Senandung Puisi Angin Malam
Karya : Khoirunnisa Ramadini
Angin malam berhembus dengan
kencang, menimbulkan hawa dingin yang mencekam tubuhku setiap malam,diatap
rumah kost yang membuat setiap orang mungkin bisa merasa nyaman disini,karena
disini aku bisa menikmati setiap gerak-gerik bintang yang indah diatas
langit,disini juga aku bisa mencurahkan apa yang pernah aku rasakan melalui
selembar kertas putih yang seakan-akan mengetahui apa yang aku rasakan.
Ribuan
lembar kertas putih yang sudah kutulis dengan tinta warna-warni itu berisikan
tentang hati nuraniku,namun ada satu diantara puisiku yang lain yang
berbeda,menurutku ini adalah salah satu karya puisi terbaikku yang belum aku
beri judul karena puisi ini masih berlanjut,hanya saja belum ku tulis dengan kata-kata
indah yang tepat untuk syairnya.
***
“selamat pagi dunia…yeayy
akhirnya aku bisa menjalani hariku lagi. OSPEK sudah selesai,berarti sekarang
tinggal menuntut ilmunya aja nih!” ucapku sehabis bangun tidur.
“tanpa orang tua,seminggu
sekali hanya bisa ketemu mereka,pasti akan kangen berat deh sama mereka! Tapi
its okay,disini juga kan demi membahagiakan mereka untuk kesuksesanku mendapat
gelar S1.” Pikirku.
***
Universitas Indonesia, universitas yang aku dan juga orang
lain mendambakannya,akhirnya aku bisa menjadi salah satu mahasiswi
disini,dengan jurusan Sastra Indonesia.
“hey Nad,kok kamu melamun sih!” sapa temanku dari
belakang.
“ahh kamu ngagetin aja sih! Aku hanya lagi merenung aja
kok.” Ucapku.
“merenungin apa sih Nad? Mendingan kita ke kelas aja yuk!
Daripada duduk-duduk ngga jelas disini.” Ucap Safaa.
“ngga penting untuk kamu kok Saf,yaudah yuk kita masuk
kelas!” ajakku dengan menggandeng tangan Safaa.
***
Usai menjalankan jam kuliah,Safaa mengajakku ke kantin.
“Nad,lihat orang itu deh! Kakak senior kita,dia itu
ganteng tapi masa aku selalu melihat dia sendiri,apa dia tidak punya teman ya?
Aku mau kok jadi temannya. tapi dia cuek banget ,aku pernah menyapa dia, tapi
diabaikan!” ucap safaa saat melihat seorang pria berjaket abu-abu itu.
“di cuekkin? Emang kamu kenal dia? Mungkin dia orang yang
tidak terlalu suka keramaian, jadi dia selalu sendiri kalau kemana-mana.”
Jawabku.
“namanya itu Raditya Pratama,dia itu anak seni, dia itu
pintar banget deh main musik, dia punya banyak lagu karya dia sendiri,
mahasiswi-mahasiswi disini juga banyak yang suka sama dia, pada minta di bikinin
lagu juga sama dia, tapi ya, dianya itu mengabaikan mereka loh Nad!” ucap
Safaa.
“ya ampun, segitu cueknya ya dia?” tanyaku.
“ya gitu deh!” balas Safaa.
***
Di kamar rumah kost,yap! Seperti biasa, aku hanya sendiri
disini, biasanya juga aku sering melanjutkan tugas kampus, terkadang juga suka
baca buku, nulis puisi atau nulis-nulis ngga jelas gitu deh, bisa juga
tidur-tiduran, tapi entah kenapa tiba-tiba aku teringat akan sosok laki-laki
tadi,yang memakai jaket abu-abu itu, yang kata Safaa juga dia itu pendiam,
cuek, dan tidak punya teman. Ya ampun, apa jadinya ya kalau aku yang seperti
itu? “setau aku jika ada seseorang yang tingkah lakunya aneh, berarti dia itu
sedang punya masalah, entah dengan siapa? yang jelas dia bukannya menceritakan
ke orang lain melainkan dia sembunyikan sendiri.tapi kenapa ya? Apa itu masalah
terlalu privasi banget? Atau gimana? Kalau nanti dia stress atau tekanan batin
gimana? Pikirku aneh-aneh.
***
Seperti biasa setiap jam kuliah usai, aku dan Safaa selalu
ke kantin, entah untuk makan atau hanya mendengarkan curahan hatinya Safaa aja.
Yap! Begitulah kegiatanku dan Safaa.
“hey Nad, denger-denger dari teman-teman kamu, katanya
kamu itu pandai membuat dan membaca puisi ya?” Tanya salah satu Kakak Seniorku.
“hah? Ngga kok kak,biasa aja. Hanya hobby aja nulis-nulis
puisi ngga jelas!hehe” jawabku.
“ahh kamu tuh ya, bisa aja deh alibinya! Udah, pokoknya
saya minta tolong sama kamu untuk membuat puisi, nanti instrumennya sudah saya
minta untuk dibuatkan oleh Radit, untuk bekerja sama dengan kamu secepatnya!”
ucap kakak itu.
“hah? Gimana caranya Kak?” tanyaku.
“terserah kamu.” Jawabnya dan langsung pergi
meninggalkanku.
“demi apa kamu bisa berkesempatan untuk berdua sama si
Radit itu Nad?” ucap Safaa yang heboh sendiri.
“ihh safaa,aku ngga berdua sama dia kali, aku Cuma
dikasih amanah untuk bekerjasama dengan dia. Tapi gimana caranya ya Saf?”
tanyaku.
“sama aja kali Nad! Yaudah kamu deketin aja dianya, kalau
bisa kamu taklukin juga deh hatinya!eciee…” jawabnya, meledekku.
“ih ngaco kamu! Temenin aku ya Saf buat ngomong ke
dianya!” pintaku.
“ngga ahh.hehe” ledeknya yang membuat mulutku manyun.
“haha bercanda kok Nad, jangan manyun gitu! Jelek ahh!”
ledek Safaa.
“hehe ngga manyun tuh!” ucapku tersenyum simpul.
***
Makalah kampus sudah selesai di kerjakan, tapi entah kenapa
sekarang aku malah memikirkan amanat dari kakak seniorku, yang menyuruhku untuk
bekerja sama dengan laki-laki itu. Laki-laki yang belum pernah aku kenal,
laki-laki yang menurutku aneh, dan… oh iya,untuk apa ya kakak itu nyuruh aku
untuk membuat puisi? Ah sudahlah, besok akan ku tanyakan.
***
Di kampus, tidak sengaja aku bertemu kakak seniorku yang
sedang berbicara dengan temannya.
“permisi Kak, aku mau Tanya yang kemarin itu, ada acara
apa ya kak sampai aku di amanahkan untuk membuat puisi?” tanyaku.
“ohh, itu hanya acara kampus kita aja kok nad, kaya
semacam pensi gitu. Namanya *Kreasi Mahasiswa Indonesia* setiap tahun di kampus
ini diadakan kok nad, khusus mahasiswa disini aja, petugasnya perwakilan
kelas,tapi nanti ada perpaduannya juga, seperti kamu dan Radit, antara puisi
dan instrumennya.” Jawabnya.
“tapi Kak, gimana caranya ya bicara sama dia? Aku aja
tidak kenal, bagaimana kerjasamanya coba?” ucapku.
“coba pelan-pelan Nad, kayanya hanya kamu yang bisa
membuatnya untuk berbicara.” Jawabnya, lalu meninggalkanku.
“kayanya hanya kamu yang bisa membuatnya untuk
berbicara” kalimat itu terus terngiang di pikiranku. “maksudnya
kakak senior itu apa ya bicara seperti itu?” pikirku dalam hati.
“duhh ya ampun, buku ku jatuh semua.” Ucapku ketika
ada yang menabrak dan membuat buku ku jatuh. Dan tanpa sengaja aku melihat
orang yang menabrakku , mataku tak henti untuk tetap menatapnya sampai dia tak
terlihat di kejauhan. Dan yap! Batinku berkata “AKU HARUS MENGEJARNYA!”
“hey tunggu!” ucapku, dan berhenti untuk berlari.
“yap! Dia berhenti.” Ucapku lagi, dan berjalan ke arahnya.
“hmmm.. perkenalkan, namaku Nadya Tsabita Shifwah, anak
kelas Sastra Indonesia.” Ucapku, dan bermaksud untuk berjabat tangan.
Namun dia langsung pergi gitu aja, dan mengabaikan ku. “heyy
tungguu!” ucapku, dan berusaha menahannya untuk pergi.
“maaf, ngga ada maksud untuk melarang kamu pergi kok, aku
tau mungkin tadi itu perkenalan yang ngga penting untuk kamu,tapi aku hanya
ingin bilang kalau kita itu harus bekerja sama demi acara sukses kampus ini.”
Ucapku.
Namun dia berusaha untuk pergi lagi, tapi aku tetap
menahannya “tolong, bantu aku membuat instrument untuk puisiku yang akan
dibacakan di acara yang pasti kamu juga sudah tau itu.” Ucapku.
Dan lagi, dia berusaha untuk pergi, dan yap! aku menangis di
hadapan laki-laki yang belum ku kenal. “aku mohon, aku tau mungkin ini tidak
penting untukmu, tapi puisi ini sangat berharga untukku. Aku tau kau pandai
membuat instrument yang indah, makanya aku putuskan agar kau yang membuatnya!”
ucapku yang menangis dan tidak ditanggapi olehnya. “aku mohon!” tambahku
lagi.
“besok temui aku di taman kampus sendiri!” jawabnya
singkat, dan pergi meninggalkanku.
***
“ohh tuhan, alangkah bahagianya aku, dia ingin membantuku
untuk membuat instrument puisi ku besok! Dan aku tidak sabar untuk menunggu
hari esok.” Ucapku dalam hati.
***
Jam kuliah sudah selesai semua, dan aku bergegas untuk
segera ke taman di belakang kampus ini diam-diam agar tidak ketauan Safaa.
Beberapa menit kemudian, akhirnya orang yang aku tunggu datang
juga.
“kamu benar sendiri?” ucapnya.
“iyaa, aku sendiri. Ayo kita bikin instrument yang tepat
untuk puisi ku ini kak!” ucapku kegirangan.
Dia berjalan begitu saja menyusuri tempat-tempat yang belum
pernah aku kenal, tempat terpencil, aku tidak tau maksudnya apa dia membawaku
kesini, tapi aku yakin dia orang baik, tapi tetap saja batinku bertanya-tanya,
akhirnya ku coba untuk bertanya “kita mau kemana kak?” tanyaku. Namun hasilnya
nihil,dia tetap tidak menjawabnya, namun ketika aku sadar diujung sana terdapat
rumah kecil, sunyi, indah namun jauh dari keramaian. Dan yap! Aku pikir ini
pasti rumahnya.
“aku belum pernah kesini, bahkan aku belum mengenal
tempat ini, tapi menurutku ini indah, ini hal unik yang pernah aku lihat dan
aku rasakan!” ucapku ketika memasuki rumahnya yang unik itu.
“kamu tunggu sini! Biar saya yang bikin instrumennya
sendiri!” ucapnya, lalu menghilang dibalik pintu yang menurutku itu adalah
kamarnya yang nyaman.
Dia sudah berada diruangannya hampir dua jam yang lalu
sendirian, ku dengar dia sedang bermain piano dan gitar miliknya, alunan musik
indah terus terdengar dari lagu itu, namun aku penasaran apa yang membuatnya
betah tinggal ditempat yang jauh dari keramaian ini. Dan yap! Aku ingin
melihat-lihat apa saja yang ada dirumah ini. Ketika aku melihat sebuah foto
keluarga yang terpajang di meja khusus tempat laki-laki itu menyimpan barang-barang
berharganya. Namun ada yang aneh, wajah laki-laki itu seperti ada yang
mencoret-coretnya,ketika aku mengambil foto berbingkai itu,ada selembar surat
jatuh, dan aku membacanya! Surat itu berisikan
~maafin Radit Pah,Mah,
Radit sayang sama kalian,tapi Radit tetap ngga bisa balik, Radit ngga kuat
menghadapi kenyataan yang Radit alami ini, lagian kalau Radit balik pun Radit
ngga akan bisa sembuh, Radit tetap kaya gini, Radit lebih pilih sendiri selama
hidup Radit, Radit ngga mau nyusahin kalian yang akan membuat kalian hanya
pusing mikirin Radit, Radit berharap kalian baik-baik aja disana. The last
letter ~
Seketika airmata ku jatuh berlinang membaca surat itu. ”hmm…
ngapain disini?” ucapnya, yang membuatku terkejut dan bingung ingin berkata
apa. “ohh, kamu pasti sudah baca surat itu? Terus ngga lama lagi semua orang
akan tau masalah ini!” ucapnya, yang membuatku seketika menangis
dihadapannya. “maafin aku kak, aku ngga bermaksud untuk berbuat seperti ini,
tapi kenapa kakak menyembunyikan ini semua? Padahal kan diluar sana banyak yang
sayang sama kakak, aku janji aku ngga akan bilang ini ke siapa pun, tapi aku
mohon sama kakak, jangan tetutup sama semua ini kak. Semua masalah ada jalan
keluarnya kok.” Ucapku menangis.
“ya, tapi tidak untuk penyakit saya!” jawabnya.
Akupun terdiam namun masih banyak pertanyaan di benak ku. “penyakit
kanker, kanker otak,itu kan yang mau kamu tanyain,udah lama saya mengidap
penyakit itu dan saya yakin satu-satunya jalan adalah menunggu kematian!”
jawabnya, seakan-akan tau apa yang ingin ku tanyakan.
Tangisku menjadi-jadi saat mendengar ucapannya. “daripada
kamu nangis disini, sekarang kamu pulang ya! Karena saya ingin melanjutkan
instrument itu!” ucapnya.
“izinkan aku nemenin kakak disini ya kak! Aku mohon! Aku
ingin merasakan apa yang kakak rasakan selama ini,aku ingin bisa mandiri kaya
kakak.” Pintaku.
***
Badanku masih capek,diatas kasur yang empuk. “hah? Ya
ampun ini kamarnya radit, dimana dia?” tanyaku dalam hati, membuat ku
panik.
“udah bangun? Tenang aja,semalam saya tidur di sofa
kok,kamu sendiri tidur disitu, udah siang, cepet beres-beres,kuliah kan? saya
tunggu depan!” ucapnya, dari balik pintu yang mengejutkanku.
***
pulang kuliah bersama Safaa, ”saya minta waktu seminggu
untuk instrumennya,dan tolong jangan ganggu saya,nanti saya kasih kamu kalau
sudah jadi semua.” Ucap Radit yang bicara dan langsung meninggalkan aku dan
Safaa. “cieee Nad, kamu sama dia deket ya?” Tanya Safaa.
“ngga kok, udah diem ahh!”
ucapku singkat karena masih memikirkan perkataan laki-laki itu.
***
Dikamar aku hanya bisa memikirkan perkataan laki-laki itu
yang membuatku bingung, banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepadanya,
tapi aku pun akan memberikan kesempatan untuk dia menyendiri lagi selama
seminggu, dan berharap besoknya dia mau berinteraksi dengan yang lainnya.
***
Sehari, dua hari, tiga hari, dan berhari-hari tanpa melihat
laki-laki itu di kampus rasanya seperti merasa sendiri, walaupun ada Safaa yang
selalu menemaniku, tapi banyak hal yang aku takut kan terjadi kepadanya.
***
Tujuh hari sudah laki-laki itu bagaikan menghilang ditelan
bumi,aku berniat akan kerumahnya sepulang kuliah nanti.
“Nad,ada titipan nih dari orang, ngga kita kenal,
laki-laki, katanya barang ini buat kamu.” Ucap Safaa yang membuatku bingung
dengan barang itu.
Aku penasaran dan membukanya langsung, ternyata isinya sebuah
iPod, lalu aku telusuri semua isinya.
Aku menemukan sebuah suara dengan alunan lagu yang indah,
yang bersuara
~puisi ini saya persembahkan untuk orang yang telah
mengetahui segalanya dari saya, maaf jika ini kurang pantas didengar olehmu.
Puisi Angin Malam
Dirinya bagaikan
kalbu yang tertiup angin,
mengisi
waktuku sesaat dan terbang kembali
Diriku
bagaikan angin malam untuknya,
yang hanya
sesaat ada untuk menemaninya,
tapi kamu,
kamu bagaikan pelangi dimalam hari,
yang
menyinari malamku dengan butiran kelembutan yang kau miliki,
aku bersyukur
dapat mengenalmu walaupun sesaat,
kini waktuku
habis, saat terakhir kebahagiaanku adalah mengenalmu.
Itu puisi untukmu kenangan terakhir dariku, jangan cari
aku, aku sudah tenang disini, jika kau merindukanku, peluklah angin malam itu,
karena aku seperti itu, terima kasih untuk perhatian dan kebaikannya kemarin,
tugas diduniaku sudah selesai, kamu harus melanjutkannya, melanjutkan dengan
sebaik-baiknya..~
Yap! Lagi-lagi airmata ku jatuh dibuatnya, aku tau ini akan
terjadi, tapi aku tak pernah sangka jika itu terjadi sekarang. Aku berharap dia
tenang disana, aku janji aku akan melanjutkan hidupnya, dan membuat bangga
orang-orang yang telah percaya padaku, aku janji !
~THE
END~
Tugas cerpen
waktu masih di SMA, terinspirasi oleh sebuah novel ‘song of the wind’ karya kak
Aiu Ahra :)
No comments:
Post a Comment