WELCOME TO MY BLOG AND THANKS FOR YOUR VISITED MY BLOG

Wednesday, 8 October 2014



 Senandung Puisi Angin Malam
Karya : Khoirunnisa Ramadini
Angin malam berhembus dengan kencang, menimbulkan hawa dingin yang mencekam tubuhku setiap malam,diatap rumah kost yang membuat setiap orang mungkin bisa merasa nyaman disini,karena disini aku bisa menikmati setiap gerak-gerik bintang yang indah diatas langit,disini juga aku bisa mencurahkan apa yang pernah aku rasakan melalui selembar kertas putih yang seakan-akan mengetahui apa yang aku rasakan.
                Ribuan lembar kertas putih yang sudah kutulis dengan tinta warna-warni itu berisikan tentang hati nuraniku,namun ada satu diantara puisiku yang lain yang berbeda,menurutku ini adalah salah satu karya puisi terbaikku yang belum aku beri judul karena puisi ini masih berlanjut,hanya saja belum ku tulis dengan kata-kata indah yang tepat untuk syairnya.
***
“selamat pagi dunia…yeayy akhirnya aku bisa menjalani hariku lagi. OSPEK sudah selesai,berarti sekarang tinggal menuntut ilmunya aja nih!” ucapku sehabis bangun tidur.
“tanpa orang tua,seminggu sekali hanya bisa ketemu mereka,pasti akan kangen berat deh sama mereka! Tapi its okay,disini juga kan demi membahagiakan mereka untuk kesuksesanku mendapat gelar S1.” Pikirku.
***
Universitas Indonesia, universitas yang aku dan juga orang lain mendambakannya,akhirnya aku bisa menjadi salah satu mahasiswi disini,dengan jurusan Sastra Indonesia.
“hey Nad,kok kamu melamun sih!” sapa temanku dari belakang.
“ahh kamu ngagetin aja sih! Aku hanya lagi merenung aja kok.” Ucapku.
“merenungin apa sih Nad? Mendingan kita ke kelas aja yuk! Daripada duduk-duduk ngga jelas disini.” Ucap Safaa.
“ngga penting untuk kamu kok Saf,yaudah yuk kita masuk kelas!” ajakku dengan menggandeng tangan Safaa.
***
Usai menjalankan jam kuliah,Safaa mengajakku ke kantin.
“Nad,lihat orang itu deh! Kakak senior kita,dia itu ganteng tapi masa aku selalu melihat dia sendiri,apa dia tidak punya teman ya? Aku mau kok jadi temannya. tapi dia cuek banget ,aku pernah menyapa dia, tapi diabaikan!” ucap safaa saat melihat seorang pria berjaket abu-abu itu.
“di cuekkin? Emang kamu kenal dia? Mungkin dia orang yang tidak terlalu suka keramaian, jadi dia selalu sendiri kalau kemana-mana.” Jawabku.
“namanya itu Raditya Pratama,dia itu anak seni, dia itu pintar banget deh main musik, dia punya banyak lagu karya dia sendiri, mahasiswi-mahasiswi disini juga banyak yang suka sama dia, pada minta di bikinin lagu juga sama dia, tapi ya, dianya itu mengabaikan mereka loh Nad!” ucap Safaa.
“ya ampun, segitu cueknya ya dia?” tanyaku.
“ya gitu deh!” balas Safaa.
***
Di kamar rumah kost,yap! Seperti biasa, aku hanya sendiri disini, biasanya juga aku sering melanjutkan tugas kampus, terkadang juga suka baca buku, nulis puisi atau nulis-nulis ngga jelas gitu deh, bisa juga tidur-tiduran, tapi entah kenapa tiba-tiba aku teringat akan sosok laki-laki tadi,yang memakai jaket abu-abu itu, yang kata Safaa juga dia itu pendiam, cuek, dan tidak punya teman. Ya ampun, apa jadinya ya kalau aku yang seperti itu? “setau aku jika ada seseorang yang tingkah lakunya aneh, berarti dia itu sedang punya masalah, entah dengan siapa? yang jelas dia bukannya menceritakan ke orang lain melainkan dia sembunyikan sendiri.tapi kenapa ya? Apa itu masalah terlalu privasi banget? Atau gimana? Kalau nanti dia stress atau tekanan batin gimana? Pikirku aneh-aneh.
***
Seperti biasa setiap jam kuliah usai, aku dan Safaa selalu ke kantin, entah untuk makan atau hanya mendengarkan curahan hatinya Safaa aja. Yap! Begitulah kegiatanku dan Safaa.
“hey Nad, denger-denger dari teman-teman kamu, katanya kamu itu pandai membuat dan membaca puisi ya?” Tanya salah satu Kakak Seniorku.
“hah? Ngga kok kak,biasa aja. Hanya hobby aja nulis-nulis puisi ngga jelas!hehe” jawabku.
“ahh kamu tuh ya, bisa aja deh alibinya! Udah, pokoknya saya minta tolong sama kamu untuk membuat puisi, nanti instrumennya sudah saya minta untuk dibuatkan oleh Radit, untuk bekerja sama dengan kamu secepatnya!” ucap kakak itu.
“hah? Gimana caranya Kak?” tanyaku.
“terserah kamu.” Jawabnya dan langsung pergi meninggalkanku.
“demi apa kamu bisa berkesempatan untuk berdua sama si Radit itu Nad?” ucap Safaa yang heboh sendiri.
“ihh safaa,aku ngga berdua sama dia kali, aku Cuma dikasih amanah untuk bekerjasama dengan dia. Tapi gimana caranya ya Saf?” tanyaku.
“sama aja kali Nad! Yaudah kamu deketin aja dianya, kalau bisa kamu taklukin juga deh hatinya!eciee…” jawabnya, meledekku.
“ih ngaco kamu! Temenin aku ya Saf buat ngomong ke dianya!” pintaku.
“ngga ahh.hehe” ledeknya yang membuat mulutku manyun.
“haha bercanda kok Nad, jangan manyun gitu! Jelek ahh!” ledek Safaa.
“hehe ngga manyun tuh!” ucapku tersenyum simpul.
***
Makalah kampus sudah selesai di kerjakan, tapi entah kenapa sekarang aku malah memikirkan amanat dari kakak seniorku, yang menyuruhku untuk bekerja sama dengan laki-laki itu. Laki-laki yang belum pernah aku kenal, laki-laki yang menurutku aneh, dan… oh iya,untuk apa ya kakak itu nyuruh aku untuk membuat puisi? Ah sudahlah, besok akan ku tanyakan.
***
Di kampus, tidak sengaja aku bertemu kakak seniorku yang sedang berbicara dengan temannya.
“permisi Kak, aku mau Tanya yang kemarin itu, ada acara apa ya kak sampai aku di amanahkan untuk membuat puisi?” tanyaku.
“ohh, itu hanya acara kampus kita aja kok nad, kaya semacam pensi gitu. Namanya *Kreasi Mahasiswa Indonesia* setiap tahun di kampus ini diadakan kok nad, khusus mahasiswa disini aja, petugasnya perwakilan kelas,tapi nanti ada perpaduannya juga, seperti kamu dan Radit, antara puisi dan instrumennya.” Jawabnya.
“tapi Kak, gimana caranya ya bicara sama dia? Aku aja tidak kenal, bagaimana kerjasamanya coba?” ucapku.
“coba pelan-pelan Nad, kayanya hanya kamu yang bisa membuatnya untuk berbicara.” Jawabnya, lalu meninggalkanku.
“kayanya hanya kamu yang bisa membuatnya untuk berbicara” kalimat itu terus terngiang di pikiranku. “maksudnya kakak senior itu apa ya bicara seperti itu?” pikirku dalam hati.
“duhh ya ampun, buku ku jatuh semua.” Ucapku ketika ada yang menabrak dan membuat buku ku jatuh. Dan tanpa sengaja aku melihat orang yang menabrakku , mataku tak henti untuk tetap menatapnya sampai dia tak terlihat di kejauhan. Dan yap! Batinku berkata “AKU HARUS MENGEJARNYA!”
“hey tunggu!” ucapku, dan berhenti untuk berlari. “yap! Dia berhenti.” Ucapku lagi, dan berjalan ke arahnya.
“hmmm.. perkenalkan, namaku Nadya Tsabita Shifwah, anak kelas Sastra Indonesia.” Ucapku, dan bermaksud untuk berjabat tangan.
Namun dia langsung pergi gitu aja, dan mengabaikan ku. “heyy tungguu!” ucapku, dan berusaha menahannya untuk pergi.
“maaf, ngga ada maksud untuk melarang kamu pergi kok, aku tau mungkin tadi itu perkenalan yang ngga penting untuk kamu,tapi aku hanya ingin bilang kalau kita itu harus bekerja sama demi acara sukses kampus ini.” Ucapku.
Namun dia berusaha untuk pergi lagi, tapi aku tetap menahannya “tolong, bantu aku membuat instrument untuk puisiku yang akan dibacakan di acara yang pasti kamu juga sudah tau itu.” Ucapku.
Dan lagi, dia berusaha untuk pergi, dan yap! aku menangis di hadapan laki-laki yang belum ku kenal. “aku mohon, aku tau mungkin ini tidak penting untukmu, tapi puisi ini sangat berharga untukku. Aku tau kau pandai membuat instrument yang indah, makanya aku putuskan agar kau yang membuatnya!” ucapku yang menangis dan tidak ditanggapi olehnya. “aku mohon!” tambahku lagi.
“besok temui aku di taman kampus sendiri!” jawabnya singkat, dan pergi meninggalkanku.
***
“ohh tuhan, alangkah bahagianya aku, dia ingin membantuku untuk membuat instrument puisi ku besok! Dan aku tidak sabar untuk menunggu hari esok.” Ucapku dalam hati.
***
Jam kuliah sudah selesai semua, dan aku bergegas untuk segera ke taman di belakang kampus ini diam-diam agar tidak ketauan Safaa.
Beberapa menit kemudian, akhirnya orang yang aku tunggu datang juga.
“kamu benar sendiri?” ucapnya.
“iyaa, aku sendiri. Ayo kita bikin instrument yang tepat untuk puisi ku ini kak!” ucapku kegirangan.
Dia berjalan begitu saja menyusuri tempat-tempat yang belum pernah aku kenal, tempat terpencil, aku tidak tau maksudnya apa dia membawaku kesini, tapi aku yakin dia orang baik, tapi tetap saja batinku bertanya-tanya, akhirnya ku coba untuk bertanya “kita mau kemana kak?” tanyaku. Namun hasilnya nihil,dia tetap tidak menjawabnya, namun ketika aku sadar diujung sana terdapat rumah kecil, sunyi, indah namun jauh dari keramaian. Dan yap! Aku pikir ini pasti rumahnya.
“aku belum pernah kesini, bahkan aku belum mengenal tempat ini, tapi menurutku ini indah, ini hal unik yang pernah aku lihat dan aku rasakan!” ucapku ketika memasuki rumahnya yang unik itu.
“kamu tunggu sini! Biar saya yang bikin instrumennya sendiri!” ucapnya, lalu menghilang dibalik pintu yang menurutku itu adalah kamarnya yang nyaman.
Dia sudah berada diruangannya hampir dua jam yang lalu sendirian, ku dengar dia sedang bermain piano dan gitar miliknya, alunan musik indah terus terdengar dari lagu itu, namun aku penasaran apa yang membuatnya betah tinggal ditempat yang jauh dari keramaian ini. Dan yap! Aku ingin melihat-lihat apa saja yang ada dirumah ini. Ketika aku melihat sebuah foto keluarga yang terpajang di meja khusus tempat laki-laki itu menyimpan barang-barang berharganya. Namun ada yang aneh, wajah laki-laki itu seperti ada yang mencoret-coretnya,ketika aku mengambil foto berbingkai itu,ada selembar surat jatuh, dan aku membacanya! Surat itu berisikan
 ~maafin Radit Pah,Mah, Radit sayang sama kalian,tapi Radit tetap ngga bisa balik, Radit ngga kuat menghadapi kenyataan yang Radit alami ini, lagian kalau Radit balik pun Radit ngga akan bisa sembuh, Radit tetap kaya gini, Radit lebih pilih sendiri selama hidup Radit, Radit ngga mau nyusahin kalian yang akan membuat kalian hanya pusing mikirin Radit, Radit berharap kalian baik-baik aja disana. The last letter ~
Seketika airmata ku jatuh berlinang membaca surat itu. ”hmm… ngapain disini?” ucapnya, yang membuatku terkejut dan bingung ingin berkata apa. “ohh, kamu pasti sudah baca surat itu? Terus ngga lama lagi semua orang akan tau masalah ini!” ucapnya, yang membuatku seketika menangis dihadapannya. “maafin aku kak, aku ngga bermaksud untuk berbuat seperti ini, tapi kenapa kakak menyembunyikan ini semua? Padahal kan diluar sana banyak yang sayang sama kakak, aku janji aku ngga akan bilang ini ke siapa pun, tapi aku mohon sama kakak, jangan tetutup sama semua ini kak. Semua masalah ada jalan keluarnya kok.” Ucapku menangis.
“ya, tapi tidak untuk penyakit saya!” jawabnya.
Akupun terdiam namun masih banyak pertanyaan di benak ku. “penyakit kanker, kanker otak,itu kan yang mau kamu tanyain,udah lama saya mengidap penyakit itu dan saya yakin satu-satunya jalan adalah menunggu kematian!” jawabnya, seakan-akan tau apa yang ingin ku tanyakan.
Tangisku menjadi-jadi saat mendengar ucapannya. “daripada kamu nangis disini, sekarang kamu pulang ya! Karena saya ingin melanjutkan instrument itu!” ucapnya.
“izinkan aku nemenin kakak disini ya kak! Aku mohon! Aku ingin merasakan apa yang kakak rasakan selama ini,aku ingin bisa mandiri kaya kakak.” Pintaku.
***
Badanku masih capek,diatas kasur yang empuk. “hah? Ya ampun ini kamarnya radit, dimana dia?” tanyaku dalam hati, membuat ku panik.
“udah bangun? Tenang aja,semalam saya tidur di sofa kok,kamu sendiri tidur disitu, udah siang, cepet beres-beres,kuliah kan? saya tunggu depan!” ucapnya, dari balik pintu yang mengejutkanku.
***
pulang kuliah bersama Safaa, ”saya minta waktu seminggu untuk instrumennya,dan tolong jangan ganggu saya,nanti saya kasih kamu kalau sudah jadi semua.” Ucap Radit yang bicara dan langsung meninggalkan aku dan Safaa. “cieee Nad, kamu sama dia deket ya?” Tanya Safaa.
“ngga kok, udah diem ahh!” ucapku singkat karena masih memikirkan perkataan laki-laki itu.
***
Dikamar aku hanya bisa memikirkan perkataan laki-laki itu yang membuatku bingung, banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepadanya, tapi aku pun akan memberikan kesempatan untuk dia menyendiri lagi selama seminggu, dan berharap besoknya dia mau berinteraksi dengan yang lainnya.
***
Sehari, dua hari, tiga hari, dan berhari-hari tanpa melihat laki-laki itu di kampus rasanya seperti merasa sendiri, walaupun ada Safaa yang selalu menemaniku, tapi banyak hal yang aku takut kan terjadi kepadanya.
***
Tujuh hari sudah laki-laki itu bagaikan menghilang ditelan bumi,aku berniat akan kerumahnya sepulang kuliah nanti.
“Nad,ada titipan nih dari orang, ngga kita kenal, laki-laki, katanya barang ini buat kamu.” Ucap Safaa yang membuatku bingung dengan barang itu.
Aku penasaran dan membukanya langsung, ternyata isinya sebuah iPod, lalu aku telusuri semua isinya.
Aku menemukan sebuah suara dengan alunan lagu yang indah, yang bersuara
~puisi ini saya persembahkan untuk orang yang telah mengetahui segalanya dari saya, maaf jika ini kurang pantas didengar olehmu.
Puisi Angin Malam
Dirinya bagaikan kalbu yang tertiup angin,
mengisi waktuku sesaat dan terbang kembali
Diriku bagaikan angin malam untuknya,
yang hanya sesaat ada untuk menemaninya,
tapi kamu, kamu bagaikan pelangi dimalam hari,
yang menyinari malamku dengan butiran kelembutan yang kau miliki,
aku bersyukur dapat mengenalmu walaupun sesaat,
kini waktuku habis, saat terakhir kebahagiaanku adalah mengenalmu.
Itu puisi untukmu kenangan terakhir dariku, jangan cari aku, aku sudah tenang disini, jika kau merindukanku, peluklah angin malam itu, karena aku seperti itu, terima kasih untuk perhatian dan kebaikannya kemarin, tugas diduniaku sudah selesai, kamu harus melanjutkannya, melanjutkan dengan sebaik-baiknya..~
Yap! Lagi-lagi airmata ku jatuh dibuatnya, aku tau ini akan terjadi, tapi aku tak pernah sangka jika itu terjadi sekarang. Aku berharap dia tenang disana, aku janji aku akan melanjutkan hidupnya, dan membuat bangga orang-orang yang telah percaya padaku, aku janji !
~THE END~




Tugas cerpen waktu masih di SMA, terinspirasi oleh sebuah novel ‘song of the wind’ karya kak Aiu Ahra :)

No comments:

Post a Comment